HARGA PROMO KURSUS BAHASA JERMAN
Hallo Freunde in Bandung!
Saya ingin menceritakan dahulu, alasan saya memilih kalimat tersebut sebagai judul ini.
Pada tahun 2014, pertama kali saya mempelajari Bahasa Jerman. Jujur saya, bahasa ini merupakan awam buat saya. Saya hanya mengenal bahasa: Indonesia, Inggris, Jawa dan Sunda. Basic sekolah tidak pernah mempelajari bahasa Jerman dan saya lulus dari Jurusan IPA. Memberanikan diri untuk ikut SPMB (tahun 2004).
Galau (= bahasa anak jaman sekarang), memilih antara Sastra Inggris dan Sastra Jerman. Sastra Inggris, berbekal kemampuan Bahasa Inggris dari kelas 5 SD tentu saja tidak akan memiliki kesulitan pada saat kuliah. Sayangnya, peminat Sastra Inggris sangatlah banyak. Menimbang, ingin masuk Universitas Negeri akhirnya memutuskan mencari bidang sastra yang lainnya.
Mengapa memilih sastra?
Kenapa tidak memilih Sains?
Dari kecil saya sangat suka membaca. Sewaktu sekolah dasar, saya meminta untuk ikut kursus bahasa Inggris. Saat pindah ke kota besar, Bandung, saya tetap melanjutkan kursus bahasa Inggris saya hingga sekolah menengah pertama. Mungkin bisa dikatakan, minat saya sudah ada di sastra sejak kecil.
Balik kepada topik semula, mengapa akhirnya saya memilih sastra Jerman.
Akhirnya saya melihat dan menimbang satra apa yang akan saya pilih, termasuk jumlah pendaftar SPMB pada saat itu.
Jurusan bidang sastra pada waktu itu ialah:
Sastra Indonesia: tidak berminat, karen sastra Indonesia mudah dilihat tetapi sulit untuk dipahami.
Sejarah: nantinya akan kerja dimana?
Sastra Sunda: nantinya bisa kerja apa?
Sastra Jepang: susah menghafal huruf kanji.
Sastra Rusia: hurufnya kenapa terbalik-terbalik ya? Bingung.
Sastra Prancis: beda garis, beda bunyi. membingungkan.
Sastra Arab: tidak bisa.
Sastra Inggris: banyak sekali peminatnya.
Sastra Jerman: bisa dicoba, ternyata bentuknya hampir sama dengan bahasa Inggris.
*Sebelum memilih saya sudah mensurvei mengenai bahasa tersebut dari buku yang ada di toko buku, sehingga saya memilih sastra Jerman.
Hehehehee....
Jauh dari pemikiran pada saat memilih bahasa tersebut. Saat kuliah berlangsung, sudah menggunakan bahasa Jerman. Ya ampun, tidak ada basic banget. Bagaimana bisa paham?
Semester pertama berusaha untuk memahami sendiri. Sepulang kuliah, catatan dari dosen saya susun ulang dibuku biar rapih. Sambil ditulis, sambil dipelajari.
Tahun 2008, saya mendapat telefon dari kakak kelas saya. Dia menanyakan, apakah saya ingin mengikuti Aupair (= homestay di Jerman)? Kesempatan jangan ditolak.
Banyak sekali pengalaman yang diperoleh melalui Homestay di Jerman.
Nih, gambaran kalau kita ke Jerman::
Pengalaman yang tidak akan terjadi lagi dalam hidup, apalagi kalau sudah menikah.
xixixixi.
Jerman tidak hanya memberikan kita kemudahan bagi yang mempelajari bahasa Jerman melalui program Aupair, tetapi juga kemudahan bagi kawan-kawan yang ingin melanjutkan study di Jerman.
Inilah alasan mengapa bahasa Jerman. Melalui program Aupair kamu bisa berkeliling Eropa dan juga mendapatkan uang saku dari orangtua asuh kita di Jerman. Bahkan berkesempatan untuk melanjutkan study di Jerman.
Sudah banyak teman-teman dari Indonesia yang mengikuti Aupair. Apakah kamu salah satunya?
Kami membuka kesempatan bagi kawan-kawan yang ingin mengikuti program Homestay. Eitssss, anak SMA dan kuliah dari Jurusan selain Sastra Jerman juga bisa mendaftar kok.
Nih, untuk kamu-kamu yang kuliah di Hubungan Internasional. Bisa dapat pengalaman seru di Jerman lo.
Warum Deutsch?
"Warum Deutsch?" yang dalam bahasa Indonesia berarti "mengapa bahasa Jerman?"Saya ingin menceritakan dahulu, alasan saya memilih kalimat tersebut sebagai judul ini.
Pada tahun 2014, pertama kali saya mempelajari Bahasa Jerman. Jujur saya, bahasa ini merupakan awam buat saya. Saya hanya mengenal bahasa: Indonesia, Inggris, Jawa dan Sunda. Basic sekolah tidak pernah mempelajari bahasa Jerman dan saya lulus dari Jurusan IPA. Memberanikan diri untuk ikut SPMB (tahun 2004).
Galau (= bahasa anak jaman sekarang), memilih antara Sastra Inggris dan Sastra Jerman. Sastra Inggris, berbekal kemampuan Bahasa Inggris dari kelas 5 SD tentu saja tidak akan memiliki kesulitan pada saat kuliah. Sayangnya, peminat Sastra Inggris sangatlah banyak. Menimbang, ingin masuk Universitas Negeri akhirnya memutuskan mencari bidang sastra yang lainnya.
Mengapa memilih sastra?
Kenapa tidak memilih Sains?
Dari kecil saya sangat suka membaca. Sewaktu sekolah dasar, saya meminta untuk ikut kursus bahasa Inggris. Saat pindah ke kota besar, Bandung, saya tetap melanjutkan kursus bahasa Inggris saya hingga sekolah menengah pertama. Mungkin bisa dikatakan, minat saya sudah ada di sastra sejak kecil.
Balik kepada topik semula, mengapa akhirnya saya memilih sastra Jerman.
Akhirnya saya melihat dan menimbang satra apa yang akan saya pilih, termasuk jumlah pendaftar SPMB pada saat itu.
Jurusan bidang sastra pada waktu itu ialah:
Sastra Indonesia: tidak berminat, karen sastra Indonesia mudah dilihat tetapi sulit untuk dipahami.
Sejarah: nantinya akan kerja dimana?
Sastra Sunda: nantinya bisa kerja apa?
Sastra Jepang: susah menghafal huruf kanji.
Sastra Rusia: hurufnya kenapa terbalik-terbalik ya? Bingung.
Sastra Prancis: beda garis, beda bunyi. membingungkan.
Sastra Arab: tidak bisa.
Sastra Inggris: banyak sekali peminatnya.
Sastra Jerman: bisa dicoba, ternyata bentuknya hampir sama dengan bahasa Inggris.
*Sebelum memilih saya sudah mensurvei mengenai bahasa tersebut dari buku yang ada di toko buku, sehingga saya memilih sastra Jerman.
Hehehehee....
Jauh dari pemikiran pada saat memilih bahasa tersebut. Saat kuliah berlangsung, sudah menggunakan bahasa Jerman. Ya ampun, tidak ada basic banget. Bagaimana bisa paham?
Semester pertama berusaha untuk memahami sendiri. Sepulang kuliah, catatan dari dosen saya susun ulang dibuku biar rapih. Sambil ditulis, sambil dipelajari.
Tahun 2008, saya mendapat telefon dari kakak kelas saya. Dia menanyakan, apakah saya ingin mengikuti Aupair (= homestay di Jerman)? Kesempatan jangan ditolak.
Banyak sekali pengalaman yang diperoleh melalui Homestay di Jerman.
Nih, gambaran kalau kita ke Jerman::
In der Bahnhof
Koelnerdom
Catherine, ich und Ben
Schlosspark
Pengalaman yang tidak akan terjadi lagi dalam hidup, apalagi kalau sudah menikah.
xixixixi.
Jerman tidak hanya memberikan kita kemudahan bagi yang mempelajari bahasa Jerman melalui program Aupair, tetapi juga kemudahan bagi kawan-kawan yang ingin melanjutkan study di Jerman.
Inilah alasan mengapa bahasa Jerman. Melalui program Aupair kamu bisa berkeliling Eropa dan juga mendapatkan uang saku dari orangtua asuh kita di Jerman. Bahkan berkesempatan untuk melanjutkan study di Jerman.
Sudah banyak teman-teman dari Indonesia yang mengikuti Aupair. Apakah kamu salah satunya?
Kami membuka kesempatan bagi kawan-kawan yang ingin mengikuti program Homestay. Eitssss, anak SMA dan kuliah dari Jurusan selain Sastra Jerman juga bisa mendaftar kok.
Nih, untuk kamu-kamu yang kuliah di Hubungan Internasional. Bisa dapat pengalaman seru di Jerman lo.
Poster Club D-Lern
Kesempatan selalu terbuka bagi orang yang ingin maju ^_^
CLUB D-LERN menawarkan Program Aupair ke Jerman.
*Siswa min 1 Person... max. 2 Person
(25 Pertemuan + Buku + Kamus + Souvenir)*
CLUB D-LERN menawarkan Program Aupair ke Jerman.
Uang Pendaftaran: Rp. 150.000 menjadi FREE
Biaya Kursus::
a.) Privat: Rp. 2.250.000 menjadi 2.000.000
(20 Pertemuan + Buku + Kamus + Souvenir)*
*Siswa min 1 Person... max. 2 Person
b.) Reguler: Rp. 1.200.000 menjadi 1.000.000
(25 Pertemuan + Buku + Kamus + Souvenir)*
* Siswa min 5 Person.
Hingga 20 September 2018
Info:: 081221694608



Komentar